Sabtu, 08 Juni 2013

MAKALAH HDR NIDA HIDAYATI



MAKALAH
KEPERAWATAN JIWA
“ HDR KRONIK “


Pembimbing    : Ns. Mamnu’ah, M.kep., Sp.kep. j.
Disusun oleh   : Kelompok B3

1.      Isnaini Fitra Utami
    7.  M Fathir Sidiq
2.      Kurnia Sari
    8.  Mei Sapita Triandini
3.      Lailatul Hasanah
    9.  Nanda Septiana
4.      Laili Najla
   10.  Nida Hidayati
5.      Lia Fitari
   11.  Nindi Sakina A
6.      Lita Suwarni
   12.  Nita Komalasari
13.  Novia Putri Handayani

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
SEMESTER GENAP TA 2012/2013





KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
                Pertama-tama kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah keperawatan jiwa II mengenai Harga Diri Rendahdengan lancar tanpa ada aral yang melintang.
Tugas ini kami susun sebagai tugas tutorial keperawatan jiwa II dengan tujuan yang lebih khusus dari kelompok kami, untuk menambah pengetahuan dan mengenal lebih dalam tentang “Harga Diri Rendah”
            Pada kesempatan ini kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mmbantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
            Kami juga menyampaikan  rasa terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah memberi tugas ini serta arahan dan bimbingan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.
            Akhirnya, harapan kami semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan bagi pembaca. Kami telah berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan makalah ini namun masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini dan tugas berikutnya.
            Wassalamu’alaikum Wr.Wb


Yogyakarta, 4 Juni  2013

Penyusun




DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar...................................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang....................................................................................................   1
B.     Batasan Masalah .................................................................................................. 1
C.     Tujuan Penulisan ................................................................................................. 2
D.    Metode Penulisan ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHSAN
Konsep Keperawatan Maternitas
A.    Definisi ...............................................................................................................   2
B.     Etiologi ...............................................................................................................   4
C.     Tanda dan Gejala ................................................................................................   5  
D.    Proses terjadinya masalh .....................................................................................   5
E.     Mekanisme Koping..............................................................................................   5
F.      Rentang respon ....................................................................................................  6
G.    Pohon Masalah ....................................................................................................  8
H.    Akibat dari HDR..................................................................................................  9
I.       Faktor predisposisi dan presipitasi ...................................................................... 9
BAB III
            ASKEP ....................................................................................................................... 11
BAB IV PENUTUP
            Kesimpulan...............................................................................................................   20
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Di dalam hidup di masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun lingkungan sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering mengalami hambatan bahkan kegagalan yang menyebabkan individu tersebut sulit mempertahankan kestabilan dan identitas diri, sehingga konsep diri menjadi negatif. Jika individu sering mengalami kegagalan maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah gangguan konsep diri misal harga diri rendah.
Faktor psikososial merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, dan dewasa). Yang mana akan menyebabkan perubahan dalam kehidupan sehingga memaksakan untuk mengikuti dan mengadakan adaptasi untuk menanggulangi stressor yang timbul. Ketidakmampuan menanggulangi stressor itulah yang akan memunculkan gangguan kejiwaan.
Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1999). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera ditanggulangi, sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa tanda-tanda harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial seperti menarik diri, percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri (Townsend, 1998).


B.     Batasan Masalah
Dalam makalah ini, kami membatasi penyajian kami pada ruang lingkup yang meliputi :
1.      Mahasiswa mampu menjelaskan Definisi HDR?
2.      Mahasiswa mampu menjelaskan Penyebab HDR?
3.      Mahasiswa mampu menyebutkan Tanda & gejala HDR?
4.      Mahasiswa mampu menjelaskan  Proses terjadinya masalah?
5.      Mahasiswa mampu menjelaskan Mekanisme koping?
6.      Mahasiswa mampu menjelaskan Rentang Respon?
7.      Mahasiswa mampu menjelaskan Pohon masalah?
8.      Mahasiswa mampu menjelaskan Akibat HDR?
9.      Mahasiswa mampu menjelaskan Faktor predisposisi dan presipitasi?
10.  Mahasiswa mampu menjelaskan Asuhan keperawatan?

C.     Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Tujuan umum
Perawat mampu mendiskripsikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah.
2.      Tujuan khusus
Untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul pada klien selama memberikan asuhan keperawatan gangguan konsep diri : harga diri rendah dan berusaha menyelesaikan permasalahan tersebut.

D.    Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan mencari referensi yang berkaitan dengan pokok bahasan.













BAB II
PEMBAHASAN



A.    Pengertian
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa   gagal mencapai keinginan. Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama. Gangguan harga diri rendah merupakan masalah bagi banyak orang dan diekspresikan melalui tingkat kecemasan yang sedang sampai berat. Umumnya disertai oleh evaluasi diri yang negatif, membenci diri sendiri dan menolak diri sendiri (Keliat, 1998).
Evaluasi dari dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan (Townsend, MC, 1998).
Penilaian negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung (Schult & Videbeck, 1998).
Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi secara:
1)      Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu ( korban perkosaan, ditubuh KKN, dipenjara tiba-tiba ).
                     Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena:
a. Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya: pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan ( pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal ).
b. Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/ sakit/ penyakit.
c.  Perlakuan petugas kesehatan yang yidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, tanpa persetujuan. Kondisi ini banyak ditemukan pada klien gangguan fisik.

2)      Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit atau dirawat. Klien mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon yang maladaptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.

B.     Penyebab Harga Diri Rendah
Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistik.
Stressor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal, seperti: trauma fisik maupun psikis, ketegangan peran, transisi peran situasi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian, serta transisi peran sehat sakit sebagai transisi dari keadaan sehat dan keadaan sakit. (Stuart & Sundeen, 1991).

C.    Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah
Tanda dan gejala yang dapat dikaji pada gangguan harga diri rendah adalah:
1.      Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit, misalnya: malu dan sedih karena rambut jadi rontok setelah mendapat terapi sinar pada kanker.
2.      Rasa bersalah pada diri sendiri, misalnya ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah sakit, menyalahkan, mengejek, dan mengkritik diri sendiri.
3.      Merendahkan martabat, misalnya saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya tidak tahu apa-apa atau saya orang bodoh.
4.      Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, suka menyendiri.
5.      Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya memilih alternatif tindakan.
6.      Mencederai diri, akibat harga diri rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.



                                                                                                              
D.    Proses terjadinya Masalah
Individu yang kurang mengerti akan arti dan tujuan hidup akan gagal menerima tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain. Ia akan tergantung pada orang tua dan gagal mengembangkan kemampuan sendiri ia mengingkari kebebasan mengekspresikan sesuatu termasuk kemungkinan berbuat kesalahan dan menjadi tidak sabar, kasar dan banyak menuntut diri sendiri, sehingga ideal diri yang ditetapkan tidak tercapai.
Sedangkan stressor yang mempengaruhi harga diri rendah dan ideal diri adalah penolakan dan kurang penghargaan diri dari orang tua dan orang yang berarti, pola asuh yang tidak tepat, misalnya terlalu dilarang, dituntut, dituruti, persaingan dengan saudara. Kesalahan dan kegagalan yang terulang, cita-cita yang tidak tercapai, gagal bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Harga diri rendah dapat terjadi karena adanya kegagalan atau berduka disfungsional dan individu yang mengalami gangguan ini mempunyai koping yang tidak konstruktif atau kopingnya maladaptive.
Resiko yang dapat terjadi pada individu dengan gangguan harga diri rendah adalah isolasi sosial: menarik diri karena adanya perasaan malu kalau kekurangannya diketahui oleh orang lain. ( Stuart dan Sundeen, 1991 )

E.     Mekanisme Koping
Menurut Keliat (1998), mekanisme koping pada klien dengan gangguan konsep diri dibagi dua yaitu:
1.      Koping jangka pendek
a.       Aktivitas yang memberikan kesempatan lari sementara dari krisis, misalnya : pemakaian obat, ikut musik rok, balap motor, olah raga berat dan obsesi nonton televisi.
b.      Aktivitas yang memberi kesempatan mengganti identitas, misalnya: ikut kelompok tertentu untuk mendapat identitas yang sudah dimiliki kelompok, memiliki kelompok tertentu, atau pengikut kelompok tertentu.
c.       Aktivitas yang memberi kekuatan atau dukungan sementara terhadap konsep diri atau identitas diri yang kabur, misalnya: aktivitas yang kompetitif, olah raga, prestasi akademik, kelompok anak muda.
d.      Aktivitas yang memberi arti dari kehidupan, misalnya: penjelasan tentang keisengan akan menurunnya kegairahan dan tidak berarti pada diri sendiri dan orang lain.
2.      Koping jangka panjang
Semua koping jangka pendek dapat berkembang menjadi koping jangka panjang. Penyelesaian positif akan menghasilkan ego identitas dan Keunikan individu.
Identitas negatif merupakan rintangan terhadap nilai dan harapan masyarakat. Remaja mungkin menjadi anti sosial, ini dapat disebabkan karena ia tidak mungkin mendapatkan identitas yang positif. Mungkin remaja ini mengatakan “saya mungkin lebih baik menjadi anak tidak baik”.
Individu dengan gangguan konsep diri pada usia lanjut dapat menggunakan ego-oriented reaction (mekanisme pertahanan diri) yang bervariasi untuk melindungi diri. Macam mekanisme koping yang sering digunakan adalah : fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi.
Dalam keadaan yang semakin berat dapat terjadi deviasi perilaku dan kegagalan penyesuaian sebagai berikut: psikosis, neurosis, obesitas, anoreksia, nervosa, bunuh diri criminal, persetubuhan dengan siapa saja, kenakalan, penganiayaan.

F.     RENTANG RESPON KONSEP DIRI

Respon adaptif                                                                                   Respon maladaptif

Aktualisasi   Konsep positif diri      Harga diri    Kerancuan identitas   Depersonalisasi

a.       Aktualisasi diri
     Pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat di terima
b.        Konsep diri positif
       Apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri dan menadari hal-hal positif maupun yang negative dari dirinya
c.        Harga diri rendah
        Individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain.
d.       Kerancuan identitas
        Kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
e.       Depersonalisasi
        Perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan , kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.
Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (Keliat, 1999). Sedangkan harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah. Harga diri rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain.
            Gangguan harga diri rendah di gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secara sosial.
Faktor yang mempegaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yag tidak realistis. Sedangkan stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti :
1.      Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menaksika kejadian yang megancam.
2.       Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi peran :
a.       Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk peyesuaian diri.
b.      Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c.          Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.

G.    Pohon Masalah











Rounded Rectangle: RPK





Rounded Rectangle: Halusinasi






Rounded Rectangle: Isolasi Sosial






Rounded Rectangle: HDR



 
















H.    Akibat Harga Diri Rendah                                                                  
Klien yang mengalami gangguan harga diri rendah bisa mengakibatkan gangguan interaksi sosial : menarik diri, perubahan penampilan peran, keputusasaan maupun munculnya perilaku kekerasan yang beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. (Keliat, 1998)

I.       Faktor Predisposisi dan Presipitasi
1.      Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengaruhi harga diri rendah adalah pengalaman masa kanak-kanak merupakan suatu faktor yang dapat menyebabkan masalah atau gangguan konsep diri. Anak-anak sangat peka terhadap perlakuan dan respon orang tua, lingkungan, sosial serta budaya. Orang tua yang kasar, membenci dan tidak menerima akan mempunyai keraguan atau ketidakpastian diri, sehingga individu tersebut kurang mengerti akan arti dan tujuan kehidupan, gagal menerima tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tergantung pada orang lain serta gagal mengembangkan kemampuan diri. Sedangkan faktor biologis, anak dengan masalah biologis juga bisa menyebabkan harga diri rendah. Misalnya anak lahir menilai dirinya rigatif. (Stuart & Sundeen, 1991)

2.      Faktor Presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh situasi yang dihadapi individu dan individu yang tidak mampu menyelesaikan masalah. Situasi atau stresor dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya. Stresor yang mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah penolakan dan kurang penghargaan diri dari orang tua yang berarti : pola asuh anak tidak tepat, misalnya: terlalu dilarang, dituntut, dituruti, persaingan dengan saudara, kesalahan dan kegagalan yang terulang, cita-cita yang tidak dapat dicapai, gagal bertanggung jawab terhadap diri sendiri (Stuart Sundeen, 1991). Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi transisi peran yang dapat menimbulkan stres tersendiri bagi individu.
Stuart dan Sundeen, 1991 mengidentifikasi transisi peran menjadi 3 kategori, yaitu:



a.       Transisi Perkembangan
Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap tahap perkembangan harus dilalui individu dengan menyelesaikan tugas perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.
b.      Transisi Peran situasi.
Transisi peran situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran, yaitu konflik peran tidak jelas atau peran berlebihan.
c.       Transisi Peran Sehat-Sakit
Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri, peran dan harga diri. (Stuart & Sundeen, 1991)

















BAB III
ASKEP

SKENARIO
Seorang perempuan berusia 37 tahun, di rawat di ruang maintenance, tiga hari sebelum masuk RS klien menendang bapaknya waktu shalat, diagnosa medis F20, hasil pengkajian klien mengatkan menedang bapaknya karna di suruh oleh suara yang di dengarnya. Klien baru pertama kali dirawat di rumah sakit, selama ini belum pernah di periksakan. Saat ini klen mengatakan  malu karna belum menikah pada usianya sekarang. Klien mengatakan tidak mendengar suara-suara lagi. Tidak ada riwayat gangguan jiwa pada keluarga. Klien orang yang tertutup. Pendidikan klie SMA, tidak bekerja dan belum nenikah. Biya perawatan pasien ditanggung Jaminan Kesehatan (JAMKESMAS). Pasien mendapatkan obat anti psikotik 3x1.
PENGKAJIAN
Identitas Pasien
Nama               : Nn. Y
Umur               : 37 th
Pendidikan      : SMA
Pekerjaan         : -
Marital             : Belum Menikah
Jenis Kelamin : Perempuan

Aksis 1 : F20        gangguan halusinasi
Aksis 2 : Halusinasi
Aksis 3 : -
Aksis 4 : Malu Belum Menikah, Belum Bekerja.
Aksis 5 : GAF 20

Nama Obat dan Dosis
·         Diazepam 5-10 mg injeksi IV
·         Propanolol dosis hingga 160 mg/hari
·         Benztropine dosis 1-2 mg 2xsehari dosis maksimal 8 mg
·         Direnhidramin 25-50 mg 2xsehari
·         Chlorpromazine
Anak >= 6 bulan : 0,5-1 mg /kg/dosis setiap 4-6 jam
Dewasa 30-2000 mg/hari dalam 1-4 dosis
Faktor prespitasi :
Faktor prespitasi biologis        : -
Faktor prespitasi psikologis     : Klien baru dirawat pertama kali.
Faktor prespitasi sosial            : Malu karna belum menikah.
Faktor predisposisi :
Faktor predisposisi biologis   : Tidak ada riwayang gangguan jiwa pada keluarga.
Faktor predisposisi psikologis : Klien malu mengatakan malu karna belum menikah   pada usianya yang sekarang
Faktor predisposisi sosial        : SMA, belum bekerja, belum menikah.

ANALISA DATA
DATA
MASALAH
DS :
-        Klien mengatakan malu karena belum menikah.

DO :
-        Klien belum menikah.
-        Klien orang yang tertutup.




HDR Kronik
DS :
-        Klien mengatakan menendang bapaknya karna di suruh suara yang di dengarnya.
DO :
-        Klien orang tertutup.


Halusinasi
DS :
-        Klien mengatakan menendang bapaknya karna di suruh oleh suara yang di degarnya.
DO :
-        Dirawat di ruang Maintenance.
-        Klien menendang bapaknya waktu shalat.


RPK terhadap orang lain

Prioritas Diagnosa Keperawatan
1.      HDR
2.      Halusinasi
3.      RPK

NCP

Perencanaan

Dx
Tujuan
Intervensi
Rasional
Implementasi
Evaluasi
1.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien di harapkan dapat meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri dengan ktriteria hasil :
Self Esteem
1.      Klien mampu menguungkapkan secara verbal penerimaan terhadap diri sendiri (2).
2.      Klien mampu melakukan komunikasi secara terbuka(2).
3.      Klien mampu melakukan pemenuhan peran pribadi secara signifikan (2).
4.      Klien mampu menerima kritik yang membangun (3).
5.      Kien mampu menggambarkan kebanggaan terhadap diri sendiri(2).
6.      Klien mampu mengenali perasaa terhadap rasa marah yang terjadi pada diri sendiri (3).
Self Esteem Enhancement
1.      Monitor pernyataan yang salah terhadap diri sendiri.
2.      Bantu naikkan kekuatan mengidentifikasi diri pada klien.
3.      Dorong pasien untuk berpartisifasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok.

4.      Anjurkan klien untuk menahan diri dari kritikan negatif.
5.      Ajari klien untuk mengidentifikasi respon positive dari orang lain.
6.      Anjurkan klien menahan diri dari kritik negative.
7.      Anjurkan klien menyampaikan kemampuan untuk mengenali situasi.
8.      Anjurkan klien menentukan tujuan secara realistik untuk meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri.
9.      Ajari klien untuk menerima kepercayaan dari orang lain dengan tepat.
10.  Ajari klien memeriksa kembali persepsi negative terhadap diri sendiri.
11.  Beri penghargaan/pujian pada klien terhadap kemajuan dari tujuan yang diharapkan.

12.  Fasilitasi Lingkungan dan aktivitas akan kenaikan terhadap penghargaan pada diri sendiri.
13.  Monitor level dari penghargaan terhadap diri sendiri tiap waktu.


1.      Setiap bertemu dengan klein hindarkan pernyataan negatif.
2.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan  nilai terhadap diri sendiri klien.
3.      Untuk mengatahui respon yang positive terhadap diri sendiri.
4.      Untuk mencegah perasaan yang semakin negatif terhadap diri sendiri.
5.      Untuk mencegah perasaan yang semakin negative terhadap diri.
6.      Untuk mengetahui cara mengenali situasi yang positif.
7.      Diskusikan tingkat kemampuan klien meningkatkan penghargaan secara realistik.
8.      Dengan diketahuinya kemampuan dan aspek yang dimiliki klien akan lebih percaya diri terhadap orang lain
9.      Untuk mengetahui apakah peraaasn positif pada diri makin meningkat
10.  Untuk mengetahui apakah perasaan positive pada diri semakin meningkat.
11.  Dengan menghindarkan penilaian negatif diharapkan klien merasa punya kemampuan yang lebih.
12.  Untuk lebih meningkatkan peran dan gambaran diri yang dipengaruhi oleh lingkungan eksternal.
13.  Monitor level dari penghargaan terhadap diri sendiri tiap waktu untuk mengetahui konsep diri dalam aspek positif dan negatif dalam aktivitasnya



1.      Memonitor pernyataan yang salah terhadap diri sendiri.
2.      Membantu pasien untuk mengidentifikasi dalam meningkatkan harga diri.
3.      Mendorong pasien untuk berpartisifasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok.
4.      Menganjurkan untuk menahan diri dari kritikan negatif.
5.      Mengajari respon positif terhadap orang lain.
6.      Menganjurkanklien menahan diri pada kritik negatve.
7.      Menganjurkan cara menyampaikan dalam menilai situasi secara benar.
8.      Menganjurkan klien cara meningkatkan penghargaan secara realistik.
9.      Mengajari cara menerima kepercayaan dari orang lain secara tepat.
10.  Mengajari klien cara menilai dirinya secara positif.
11.  Memberikan pujian setiap kemajuan yang dimuliki.
12.  Memfasilitasi lingkungan yang nyaman untuk meningkatkan kepercyaan diri klien.
13.  Memonitor setiap perubahan yang di lakukan klien.
Tgl 21 Mei 2013 pukul 13.00

S : Klin merasa lebih baik
O : Klien terlihat lebih opratif.
A : Msalah keperawatan HDR tertasi sebagian
P : Evaluasi tindakan yang sudah dilakukan.
2
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 klien di harapkan dapat mengganti kebiasaan-kebiasaa mendengar suara yang menyimpang dengan keretria hasil :
Sensory Function Hering
1.      Klien mendiskusikan dampak penurunan pendengaran terhadap gaya hidup (2).
2.      Klien dapat mempertahankan orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.(2).
3.      Klien mengungkapkan perasaan nyaman (3).
4.      Klien menunjukkan  ketertarikan terhadap lingkungan eksternal(2).
5.      Klien merencanakan untuk menggunakan sumber-sumber komunikasi untuk membantu defisit pendengaran (2).
Preparatory Sensory Information
1.      Identifikasi urutan dari peristiwa dan dengan cara menghubugkan dengan gambaran lingkungan sekitar.
2.      Identifikasi bentuk sensasi pendengaran secara umum dari gambaran pasien dan hubungkan dengan tiap aspek.
3.      Gambaran sensasi konkrit, bentuk objektif yang digunakan pasien untuk menggambarkan kata dan lakukan evaluasi obektive peningkatan reflek dari sensasi/respon marah.
4.      Tunjukkan sensasi dan cara mengurutkan peristiwa yang paling mungkin untuk menjadi pengalaman.
5.      Beri kesempatan klien untuk bertanya dan mengklasifikasi ketidakpahaman.




3
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien dapat mengontrol rasa marahnya dengan kritria hasil :
Coping
1.      klien mampu mengidentifikasi bentuk koping yang efektif.
2.      klien mampu mengidentifikasi bentuk koping yang tidak efektif
3.      klien mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.
4.      klien mampu menerima situasi dengan mengungkapkan secara verbal.
5.      klien mampu membiasakan untuk mengubah perilakunya.
6.      klien mampu melaporkan kenaikan kenyamanan secara psikologis.
Coping Enhancement
1.      berikan penghargaan kepada klien antas indikasi dari perubahan gambaran terhadap dirinya sendiri.
2.      dorong klien untuk mengidentifikasi gambaran nyata dari perubahan peran.
3.      berikan suasana lingkungan yang menyenangkan.
4.      ajarkan klien untuk mengembangkan penilaian secara objektiv terhadap peristiwa.
5.      ajarkan klien untuk mengudentifikasi respon positif dari orang lain.
6.      dorong klien untuk melakukan aktivitas sosial dan kelompok.
7.      ajarkan klien untuk menggunakan tehnik relaksasi.





















BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa   gagal mencapai keinginan.
Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1999). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera ditanggulangi, sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa tanda-tanda harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial seperti menarik diri, percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri (Townsend, 1998).
















Daftar Pustaka

Maslim Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmaja
Herdman, T Heather. 2012. Nanda 2012-2014. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Yosep Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Refika Aditama




























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar